Untitled

Bandara – 01.30 PM

“Taufiq Hidayat” tertulis nama itu di secarik kertas berukuran A4 yang sengaja aku bawa dari rumah. Aku masih terduduk memandangi kertas yang aku bawa, aku masih berusaha mengingat – ingat sudah benarkah apa yang aku tuliskan pada kertas itu. Aku masih memandangi kertas itu saat pemberitahuan kedatangan pesawat asal banjarmasin akan tiba.

Lima menit berlalu, orang orang mulai berada pada posisinya masing masing, aku mengikuti langkah kerumunan manusia – manusia ini dari belakang, mudah saja tubuh mungilku yang tidak seberapa tinggi ini tanpa perlawanan sudah sampai di batas depan. Ku acungkan kertas yang dari tadi aku pandangi, tak berapa lama para penumpang pesawat segera terlihat. Sekitar 15 meter dariku terlihat laki laki kurus tinggi mancung, dengan mata kecil nan tajam khas suku dayak. Dia memakai kemeja hitam dengan jeans hitam, dia sungguh terlihat pintar, dia berjalan ke arahku sambil mengulurkan tangan “mala?” , aku tersenyum kecil sambil menunjukkannya jalan keluar, tidak bisa dijelaskan, rasanya perasaanku sedang diterbangkan tinggi diatas awan.

Disana pertemuan pertamaku dengannya, tidak ada yang aneh selain sosok lelaki hampir sempurna dari segi penampilan menemaniku berjalan keluar dari bandara. Rasanya canggung, tapi lelaki di sebelahku ini nampak sangat santai. Beberapa menit berlalu sampai kecanggungan diantara kami mencair.

“kenapa kamu ingin ke kotaku?” . “sudah jelas, kan kamu sudah tau aku suka tinggal dekat laut, dan…” aku terdim sejenak sebelum dia memutuskan untuk mencela perkataanku. “ingin bertemu denganku ? kamu lucu ya, tidak salah aku jauh jauh menjemputmu ke kota ini” . basa basi kami cukup singkat hingga akhirnya aku memutuskan membawanya ke sebuah apartemen tempat tinggalku. Kami berjalan berdampingan sebagaimana mestinya, sesekali dia memergoki raut wajahku yang semakin lama semakin merah.

—————

Balkon apartemen – 10.34 PM

Senja sudah lama berlalu, aku masih saja berdiam diri di atas balkon saat mentari sudah sempurna tertutup mega gelap.

Don’t wanna close my eyes
I don’t wanna fall a sleep
Cause I’d miss you, baby
And I don’t wanna miss a thing

Alunan nada grup band aerosmith mengalun lembut ditelingaku, di temani angin yang dari tadi berhembus kencang membelai rambutku yang masih terlihat basah, udara dingin menembus mantel tebalku. Dari tempatku duduk terlihat jutaan lampu kota berkerlap kerlip, semakin malam semakin cantik. Tak begitu lama langkah kaki laki laki mendekatiku, kuseret kedua bola mataku ke arah kiri, benar saja laki – laki itu membawa secangkir coklat panas lalu duduk disampingku. “kamu suka lampu lampu itu?”, “jelas, mereka seperti bintang genit”, “bintang genit?” raut mukanya terlihat berbeda. “iya lihat mereka mengedipi kita, para mata yang memperhatikannya” . “ah kamu bisa bisa saja”. kami larut dalam pikiran masing masing, sampai awan hujan di sebelah timur mulai menunjukkan eksistensinya “ayo masuk, disana awannya udah pada turun, kamu gak mau kan hari – hari kita sia sia gara – gara kamu sakit ?”. tanpa banyak menyela aku mengikuti langkah kakinya memasuki apartemen.

—————

Rio, brazil 10.50 PM

Kerumunan orang tinggi besar sudah mengelilingiku sejak beberapa menit yang lalu, bau alkohol sudah sangat menyengat. Belum lagi aroma asap rokok yang tersembul dimana – mana. MC sudah mengumumkan sepuluh menit lagi guest star akan naik ke atas panggung. Ribuan suara manusia berteriak bahagia.

Lelaki di sebelahku ini masih terus menggenggam tanganku. Balutan bajunya agak berbeda dengan yang pertama kutemui di bandara. Kali ini kaos hitam bertuliskan AA membuatnya semakin mengagumkan, hampir sama dengan kaos yang kukenakan, hanya saja milikuu bertuliskan kepanjangan dari inisial yang ada di kaosnya “asking alexandria” dengan text berwarna hijau dan font yang menunjukkan musik cadas.

“kamu jangan kemana – mana, disini saja sebentar lagi mereka tampil” aku semakin menggenggam tangannya erat, kerumunan manusia besar berkulit putih ini agak sedikit membuatku sesak. Tapi disamping lelaki ini, rasanya aku akan baik baik saja.

Salah satu keinginanku terwujud lagi malam itu, dua jam konser asking alexandria, band yang sudah lama ingin kulihat konsernya akhirnya dapat kutonton bersama lelakiku, sungguh bahagia yang tak terduga.

—————

Kereta api surabaya jogja – 08.30 AM

Hiruk pikuk pengguna kereta api mulai berlalu lalang, lelaki di samping terlihat gusar. Aku hanya tersenyum dan coba meraih jemarinya. Tangannya dingin, sepertinya gugup. Benar saja ini kali pertama dia naik kereta api, di pulau asalnya memang tidak ada salah satu transportasi keren seperti kereta api ini. “udah gak papa, ada aku. Naik kereta api menyenangkan kok” dia masih terlihat gugup sambil beberapa kali melempar senyum kepada mata mata yang menyadari kegugupannya.

Kereta mulai diberangkatkan, dia menarik nafas panjang. Dipegangnya erat tanganku, aku menyadari perasaannya yang mulai memuncak gugup. Sepuluh menit berlalu suasana perkotaan masih jelas terlihat dari balik kaca kereta, sepertinya lelaki ini sudah mulai tenang. Genggamannya sudah tidak terlalu erat, dia mulai memandang apa saja yang tergambar dari balik kaca. “kamu benar, transportasi ini menyenangkan. Aku bisa melihat apa yang orang dalam kota tidak lihat, coba kamu lihat ada persawahan luas disana, pasti ini jauh ya kalau kita naik kendaraan lain” . dia seperti bayi yang baru mengenal air susu ibunya, raut wajahnya begitu sumringah. Aku masih saja menanggapi perasaan bahagianya sampai akhirnya dia terlelap dalam pundakku.

—————-

Balikpapan – 07.30 PM

Bersama lelaki ini aku selalu terbangun di tempat tempat cantik, tempat dimana aku ingin berada. Tuhan begitu ajaib, sihir apa yang diturunkannya padaku setiap harinya. Kala itu aku ingat betul bagaimana jemarinya menggenggam erat jemariku. Melangkahkan kaki berdua mengitari salah satu kota besar di indonesia, sebut saja balikpapan. Salah satu kota yang ingin aku kunjungi sebelum manado, jelas saja picture picture di google merayuku untuk mendatangi kota ini. Bangunan bangunan mewah nan megah berada tepat di pinggir laut lepas. Aku suka membayangkan bagaimana rasanya jika bangun tidur langsung turun dan keluar menemui laut lepas, pasti sangat bahagia rasanya.

“aku ingin duduk disana, sambil menikmati eskrim vanila” rengekku manja. “ayo” jemari kecilnya mulai menarikku ke arah penjual eskrim vanila. “indah ya, andai kotaku secantik ini, aku pasti tak ingin menghabiskan hidupku untuk berkeliling” aku menaruh kepalaku di pundak kuatnya. Jemari kecilnya mulai menggenggam tangan kananku lagi. Malam itu dia tak banyak bicara, hanya gesture tubuhnya yang daritadi kutangkap hendak membuatku bahagia.

“besok mau jalan jalan kemana?” tanyanya. “aku ingin ke pulau yang punya banyak pantai indah” .

————–

Raja ampat island – 08.45 AM

“ayo pakai tabungnya, sebentar lagi kita akan melihat dunia bawah laut” dia terdengar bersemangat sekali, aku masih saja bergetar dibalik pakaian renang ketat ini. Benar saja aku suka laut, tapi aku tak berani memasukinya. Benar benar gila laki laki ini, aku hampir meneteskan air mata saat mereka pendamping penyelam mulai memasang peralatan diving ke tubuhku.

Lelaki itu masih terlihat memandangi laut sangat bahagia, sampai dia menoleh kepadaku “ayolah, bawah laut indah sekali” . bibirku bergetar tak bisa menanggapi perkataannya. Detik demi detik berlalu saat dia menggandengku duduk di pinggir kapal sambil membelakangi laut. Debar jantungku kacau saat dia mulai membaringkan tubuhnya ke air dan seketika itu juga *byurrr* aku sudah berada di atas laut, dan mengapung. Betapa takutnya, tapi lagi lagi lelaki ini meyakinkanku, lalu menggandengku turun sambil mengayunkan kedua kakinya.

Setengah jam kami berada di bawah sana, dia mulai melapas tanganku, lalu mengeluarkan papan dan menulis “aku sudah yakin, pasti kamu bisa”. Aku mengacungkan jempolku dan mulai bermain main dengan ikan kecil yang bersembunyi dibalik karang. Raja ampat memang ingin ku kunjungi karena keindahan pantainya, tapi tak kusangka lelaki ini akan mengajakku jauh turun ke dunia bawah laut, benar benar gila.

—————-

Apartemen – 06.35 AM

Keesokan harinya saat aku membuka mataku, lagi – lagi dia ada, kali ini dia dihadapanku membawakanku amplop coklat. Betapa kagetnya saat aku mengetahui isi amplop tersebut. “trip to bora bora island for 2 week’s”. Tanpa banyak bicara aku berlari memeluknya erat. Entah dari mana Tuhan mengirimkan malaikat tampan ini untukku.

—————

Bora bora island – 09.54 AM

Dia mengencangkan sabuk pengamanku sambil sesekali membetulkan posisi duduknya, lagi lagi jemarinya mendekap jemariku “kamu tidur aja, nanti aku bangunkan kalo sudah sampai” . Tujuh jam berlalu, dia membangunkanku dengan belaian lembut “sayang ayo turun” . Udara luar menyapaku ramah, dia menggandengku memasuki taksi. “pantai ya pak” tak berapa lama kami sudah sampai di pantai yang amat indah. “kamu tau ini hal terbaik yang pernah aku dapat dalam hidupku?” dia hanya tersenyum manis sambil mengusap usap pipiku.

sepertinya dia benar benar ingin memanjakanku. Atau dia memiliki kekuatan khusus yang diturunkan Tuhan untuk membahagiakanku, bayangkan saja apa saja yang aku minta selalu dia beri, walau aku sadar memang permintaanku adalah permintaan aneh, bahkan sangat aneh. Sebut saja salah satu permintaanku adalah memintanya menemaniku makan eskrim dengan mangkuk besar di pinggir pantai pada dini hari. Aku bilang saja aku suka menikmati hal manis dibawah cahaya rembulan dan desiran ombak laut. Tapi tanpa aku harus menunggu, hanya dalam jangka beberapa detik ditangannya sudah ada semangkuk besar eskrim vanila lengkap bersama wafer coklat dan cherry kecil. “oh god, thanks for giving me your angle” ucapku pada tuhan.

—————

Bora bora – 20.45 PM

hampir dua minggu berlalu sangat romantis. Malam itu angin bertiup sangat lembut, sepertinya alam sedang bersekongkol dengan lelaki itu, dia menggandengku keluar. Didudukkannya aku di kursi yang tersedia di pantai, kursi itu hampir setengah badan menancap di pinggir pantai. Bulan terlihat sangat megah di atas cakrawala, belaian air yang lembut memanjakan kaki kakiku. Dibawah cahaya rembulan lelaki itu mengeluarkan kotak kecil dari saku kanannya, dengan mata berkaca sambil meraih tangan kiriku dia berkata “will you marry me”…

—————–

Surabaya – 10.50 PM

*kriiiiiiiiiiinggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggg*

Sial! aku sudah hampir menerima lamarannya saat bunyi alarm jam pinguin ini membangunkanku. Senyum kecil merekah di balik wajah cantikku saat bangun tidur. Terlihat beberapa fotonya dengan pose yang lucu di dinding dinding kamarku. Tak kusangka ini sudah tahun ke empat aku memimpikannya, seorang pangeran yang belum pernah aku temui sebelumnya. Seorang pangeran yang aku tidak tahu namanya. Seorang pangeran yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Seorang pangeran yang belum pernah aku genggam jari – jarinya secara nyata. Seorang pangeran yang pernah mengajakku menikah dalam tidurku. Aku mengambil note yang ada dibawah jam pinguin kesayanganku.

“for my dreamboy : ini sudah tahun ke empat. Aku ingin berhenti menyentuhmu dalam lelapku, jadi datanglah jadikan sosokmu dalam keterjagaanku”

-Tuhan memang adil, tidak perlu munafik jika mereka mengaku tidak bahagia jika hal yang di inginkannya terjadi hanya dalam lelap. Walaupun hanya dalam cuplikan bunga tidur, aku percaya pasti setiap cerita yang dijalani di dalam sana akan selalu mengukir senyum saat mereka mulai terjaga- *tir

Surabaya, 20 februari 2014 . 04.22
Hanya mengisi kekosongan selama berinsomnia, sedikit bercerita tentang si pemimpi yang selalu bersyukur tentang apa yang diberikan Tuhannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s