Ara dan Keresahannya

Masih ingat ibu peri dan lelaki yang menanti dibawah lampu taman ? Mereka tidak tamat. Hanya saja detik telah berlalu, dan mereka abadi di tempatnya masing masing.

Waktu menuntutku jadi dewasa, membentangkan kisah-kisah nyata dan jalan-jalan setapak yang harus ku lalui. Dengan atau tanpa mata, terlelap atau terbangun, apapun yang kulakukan waktu tak akan berhenti. Kecuali Tuhan menginginkannya.

Sesekali aku merindukan ibu peri dan beberapa lelakiku di masa itu. Tapi kesadaranku mengatakan lelakiku di masa sekarang akan terluka jika mengetahuinya. Terkadang aku juga suka mengamati tawa riuh lelaki lain. Mereka yang jelas bukan milikku dan tidak akan pernah aku miliki. Betapa mengagumkannya mereka, sesuatu yang pernah kugantung tinggi dan berusaha kucapai layaknya prestasi. Tapi kembali lagi, aku sudah bukan merpati yang dapat terbang bebas melintasi bumi. Bahkan hanya untuk hati yang tak pernah tampak. Kecuali binar mata yang selalu jujur tentunya.

Seperti yang mereka bilang tentang rumput tetangga yang selalu lebih hijau sebaik apapun kita merawat rumput kita sendiri. Tapi itu hanya permainan saja, entah mengapa aku percaya bila kita mensyukurinya semua akan lebih baik. Walaupun rumput tetangga lebih hijau, tapi yang kumiliki adalah ladang emas. Apa yang aku butuhkan tercukupi.

Manusia memang serakah, dan seperti itu cara tuhan menyeimbangkan bumi. Akan selalu ada mangsa yang siap untuk dimangsa. Akan selalu ada pilihan antara diterkam atau menerkam. Sedih atau bahagia, itu jalan yang kita pilih. Keberhasilan cuma bonus dari Tuhan.

Akan selalu ada yang merasa benar dan tidak mau disalahkan. Akan ada si kaya dan si miskin. Malaikat dan setan tentunya.

Akan selalu ada baper ini dan itu baper satu ke yang lain. Memang tak akan ada manusia yang setia. Hati tak akan pernah ada yang menua. Melompati satu jurang ke jurang lain. Adakah satu manusia yang hanya tertuju pada satu manusia lain ? Jika ada mungkin kita bisa menyebutnya pulang. Hati bisa berbagi, tapi rumah yang kita inginkan cuma satu. Dan itu adalah tujuan, awal dan akhir. Seperti pendaki yang diberi berbagai macam jalan setapak untu mencapai puncak. Dia akan lebih memilih mengeksplor jalan jalan yang mungkin akan lebih indah. Tapi tak pernah melupakan tujuannya, yaitu puncak. Tempat dimana oksigen menipis dan kita setara dengan awan yang takkan pernah bisa kita gapai.

Abaikan masalah baper.

Saat ini sudah bukan jaman kolonial belanda, yang semua menulis mati matian untuk memerdekakan kehidupan. Bukan jaman siti nurbaya yang harus rela dijodohkan demi ini itu.

Abaikan ini juga.

Saat ini adalah demokrasi, dimana hampir semua tulisan tangan mengagungkan perasaan. Jemariku tak ingin berhenti bercerita, tapi sepertinya otakku hampir lupa. Terlalu pagi untuk menelan ini.

Tentang opening ibu peri dan para lelaki lelaki itu… Sudah lupakan, mereka hanya pemanis. Yang tak akan pernah habis bila dikonsumsi sampai mati.

Surabaya, 21 juni 2015

05.29

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s