Aku bercerita, tentang keluh kesah yang menyakitkan.Tentang cinta dan kasih sayang.

Kala itu senja, dan matahari berhenti berpendar. Kala itu kita lupa, bagaimana cara mengukir senyum yang melebar.

Padahal kita tahu, senja adalah seni terindah. Dan senyum adalah kebahagiaan yang menjelang.

Api menyala untuk menerangi kemudian padam. Bukankah obat selalu pahit tapi mengobati. Bukankah harus selalu ada yang dikorbankan untuk sebuah hasil yang menjanjikan.

Untuk yang kau kenang, dan kau abadikan.

Janji janji yang melayang dan terhirup.

Aku adalah jelmaan merpati, yang siap untuk mengabdi.

Dan engkau adalah manusia, yang memang harus di sayangi.

Jutaan rindu membentang, dari hembusan nafas-nafas insan.

Sampai atau tidak, rindu akan selalu tampak dan berlipat.

Ketahuilah,

Tidak ada siksa yang lebih dalam daripada kerinduan.

Tidak ada pesakitan yang lebih menusuk daripada kehilangan.

Sudikah engkau memberiku harap walau sekejap ?

Tengoklah disana, ada seorang putri yang merindukan bulan. Tidakkah cahayanya cukup untuk menuntaskan perasaan ? Tapi manusia tak pernah puas, sampai ia berhasil memeluk yang dirindukan.

Surabaya, 25 juli 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s