#BAB1

image

foto ini diambil ketika kita berlibur di WBL, tentu saja bukan dengan keluargaku, melainkan keluarga kakak papaku. Akupun lupa ini kapan :’)

Aku dilahirkan ditengah keluarga kecil, yang miskin. Dibesarkan dengan cara keras, didikan seorang ibu yang sangat disiplin. Sebelum aku cukup mengerti akan apapun, kudengar ia meninggal karena tumor otak yang dideritanya (padahal belum juga kutau apa arti dari meninggal sebelumnya).

Sepeninggal orang yang kusebut mama tersebut, tinggallah aku, adik lelakiku, papaku, dan kedua orang tua dari papaku. Aku dibesarkan tanpa basa-basi, tak ada pembicaraan-pembicaraan ringan tentang bagaimana kabarku, kabar sekolahku, kabar teman temanku atau yang lain. Aku tumbuh di keluarga yang kaku, yang pada masa itu cukup membuatku meratapi hidupku setiap saat.

Didikan dirumah hampir tak jauh beda dengan lingkunganku, aku hampir tak punya teman sama sekali, aku hanya ingat waktu sekolah dasar aku pintar, kemudian aku jadi apatis saat sekolah menengah pertama. Kurasa aku tumbuh jadi anak kecil yang pendiam dan tak peduli apapun, terlebih lagi karena aku dikucilkan akibat fisikku yang kurang menyenangkan pada masanya. Mungkin bahasanya saat ini adalah di bully, and i don’t care about it (sekarang).

Pada umurku yang masih belia saat itu, aku benar-benar merasa tertekan dan tak tau apa yang harus aku lakukan, terlebih lagi aku benar-benar tak punya seorangpun untuk menceritakan ini itu di kehidupanku. Alhasil aku tumbuh dengan pikiranku sendiri, segala sesuatu yang kututup rapat seolah tidak peduli.

Sekian taun kemudian, nenekku menyusul mama ke sisi Tuhan, dua taun setelah itu disusul kakek. Aku hampir-hampir tidak peduli, rasanya tidak ada yang berbeda, karena aku memang merasa benar-benar sendirian ada atau tidak adanya mereka. (Justru pada masa itu yang kutangisi adalah kepergian robi, kelinci kesayanganku yang jadi teman bicaraku satu satunya *dan papaku marah akan hal itu*)

Tinggallah aku dan adik lelakiku dan juga papaku, waktu itu aku tumbuh sedikit dewasa, tapi kasus bullying dan kesendirianku semakin memupuk ketidakpercayaanku kepada siapapun, termasuk kepada diriku sendiri. Aku tumbuh jadi gadis kecil yang kuat, yang tak peduli apapun dan tak pernah menangis, untuk alasan apapun itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s