#BAB4

image

#SIN2 sebuah hasil nyata dari kerja tim yang baik. Aku sayang kalian KOPI Production 💕

Aku merasa sudah cukup besar saat ini, masuklah pada jenjang perkuliahan. Kucoba buang perlahan-lahan sifat ketertutupanku, aku memutuskan masuk organisasi. Dan langkahku kuanggap benar. Ini pelajaran kedua dalam hidupku, keluarga tak harus sedarah dan tinggal serumah. Kutemukan diriku di rumah keduaku (tempatku pulang selain keluargaku), mereka yang membuatku nyaman, walaupun mereka mungkin tak peduli akan kehadiranku, tapi kehadiran mereka sangat membuat perubahan besar di hidupku.

Aku dipertemukan dengan golongan orang A sampai golongan orang Z yang belum pernah kutemui sepanjang aku hidup. Tentang golongan manusia baik dan manusia yang tak buruk. Mereka membuka mataku, bahwa di umur 20an banyak yang berubah (disini aku tau bahwa aku adalah manusia yang cari aman, hampir tak pernah melakukan kesalahan yang menurut agama dan adat).

Mereka mengajarkan aku banyak hal tentang ketulusan tanpa pamrih, tentang tangisan yang tak selalu menyakitkan, tidak seperti yang sudah-sudah. Mereka mengajariku juga cara bertukar pikiran, cara saling memaki tanpa dimasukkan hati, sampai cara-cara menghilangkan pesakitan hati (tapi aku tetap tumbuh sebagai manusia penyuka sepi, memfilosofikan hidup adalah hobiku, dan mungkin juga itu kurang baik karena membuatku terlalu masuk di zona aman).

Keluarga baru ini hampir membuatku lupa hidupku diluar sana, 70% hidupku kuhabiskan di rumah kedua, dengan atau tanpa mereka. Buruknya aku menyebut ini pelarian, pelarian yang banyak membimbingku mensyukuri hidup.

Pada bab ini aku mulai merasakan aneh, sesuatu yang mulai kutertawakan, yaitu perasaan papaku mulai kehilangan putri satu-satunya. Beliau mulai sering memarahiku karena pulang terlalu larut dan tak pernah ada dirumah. Aku tak peduli, karena aku merasa cukup besar untuk mencari kebahagiaanku sendiri. Tapi untuk beberapa saat memang aku merasa bersalah, di umurnya yang sudah tak muda lagi aku masih juga tak peduli dan tak menemaninya, dan pembelaanku adalah aku membenci rumah, karena disana terlalu banyak hal yang membuatku asing, termasuk beliau sendiri. *apalagi faktor kekacauan rumahku setelah dia menikah (walau ini tak sepenuhnya bisa dipersalahkan)*.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s