RASA

Bisa aku sebut ini cinta ? ini memang bukan kali pertama aku sebut ini kita, ini juga bukan kali pertama aku menceritakan kita kepada mereka dalam sebutan kami. Bisa aku sebut ini sayang ? ini memang bukan kali pertama aku memikirkanmu. Ini juga bukan terakhir kalinya aku akan memikirkan kamu. Bisa aku sebut ini rindu ? mungkin ini bukan kali terakhir kamu datang, mungkin ini juga bukan kali terakhir kamu pergi. Bisa aku sebut ini benci ? ini bukan tentang bagaimana aku melampiaskan kemarahanku, juga bukan pula bagaimana aku menyimpulkan kesedihanku. Bisa aku sebut ini..

Aku ingin membenci waktu. Saat kamu,kamu,kamu bermain api dikepalaku. Yang aku ingin, kebersamaan kita dalam sebuah rumah mungil, yang berisikan tawa-tawa anak kecil. Yang aku ingin, pelukanmu dan pelukanku saling mengikat kuat. Yang aku ingin, genggamanku dan genggamanmu saling mengekang erat. Yang aku ingin, langkahmu dan langkahku tak pernah saling berjauhan satu sama lain. yang aku ingin kita akan sama-sama membisu saat ditanya bagaimana bisa aku mencintamu dan bagaimana bisa pula kamu mencintaiku. Yang aku ingin..

Ranting-ranting bernyayi pilu. Daun-daun cemara bergesekan merdu. Aku bisa bicara aku rindu. Yang aku inginkan temu. Yang aku inginkan hela nafasmu, yang aku inginkan tatap matamu. Yang aku inginkan senyumanmu. Yang aku inginkan jaket merahmu, celana hitammu, sepatu corakmu, topi polosmu, rambut ikalmu, serta aromamu. Yang aku inginkan..

Aku lelah memberi nama perasaanku satu persatu, aku lelah meruntutkan keinginanku ini dan itu. Aku tidak pernah benci pertemuan kita. Aku juga tidak pernah benci perpisahan kita. Aku tidak juga pernah membenci waktu. Aku juga tidak pernah membenci detik lalu. Aku hanya ingin kamu pergi, pergi sebelum pertemuan itu. Aku juga ingin aku pergi, pergi sehingga tidak pernah ada pertemuan itu. Aku hanya ingin..

Kamu sering bercerita tentang dinginnya bukit dan debur ombak di pinggir laut.  Kamu bilang, kamu ingin pulang, aku mengangguk. Kamu bilang pulang adalah tempat dimana dinginnya udara bukit dan debur ombak pinggir laut berada. Kamu bilang, kamu cinta mereka. Kamu bilang mereka cinta kamu. Kamu bilang, tidak ada yang lebih mencintai kamu lebih dari mereka. Aku hampir tidak setuju, bagiku aku lebih mencintai kamu daripada mereka, dan kamu tertawa. Kamu bilang kamu akan pulang, dan aku mengangguk. Tapi kali ini aku setuju, buktinya mereka membawamu pergi tanpa pernah mengajakku ikut serta…

Ruang Hampa

Tirtasya,

Surabaya, 23 Maret 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s