Rana

Minggu pagi yang sendu, semilir angin membangunkanku dari mimpi yang kau tiupkan kemarin malam. Ada yang tersisa dari air mata yang menetes; juga ingus yang memberontak menyusul deras. Ternyata, mawar tak selalu indah sayangku. Adanya ia berduri; dan tak bisa kita memaksa mawar menjadi melati, yang adanya anggun dan mewangi.

 

Surabaya,

20 Oktober 2016. 4.11 AM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s