Kenangan-kenangan yang tak ingin kubuang sampai akhir.

Ranjang ini telah hampa, kosong dan berantakan.

Aku cukup tau hobimu yang tak suka tidur dengan seprei itu, tapi tidakkah kau berpikir untuk membereskannya sebelum kau pergi meninggalkanku? Ah sial, aku menggerutu lagi.

29 juli 2017.

Aku bahkan masih ingat kau bilang terlalu lelah dan ingin memejamkan mata sejenak. Aku tak berfikir panjang, kubiarkan kau tertidur sedikit lebih lama. Bila bisa ku ulang lagi hari itu, mungkin aku tidak akan membiarkanmu bangun. Akan kujaga sampai entah kapan.

Taukah kamu sayangku? Melihatmu terlelap seperti itu aku merasakan kehangatan bak bidadara tampan sedang mengunjungi rumahku dan numpang istirahat. Setiap kali kupikir ulang, ingin rasanya ku usap kepalamu yang sedang tertidur dan mencium pipimu yang terlihat tampan. Kamu adalah yang sempurna untukku, tidak akan pernah kuhapus dari ingatanku.

Hey! Percayalah, pernah aku berfikir tentang “bagaimana kalau kita menua bersama, kau perkenalkan anakku dan anakmu, kita reuni organisasi bersama. Apakah tawa dan pelukmu masih akan sama dengan persahabatan kita saat hangat-hangatnya?”

Kalo boleh dibilang, sejak awal juli kamu udah ngecek banget pengen pamitan sama aku, sampe akhirnya bulan juli ketemu 2x. 2x doang saking sibuknya kamu dan saking banyaknya yang harus kamu temuin.

7hari sebelum kamu pergi ninggalin aku, aku bilang aku kok mimpi, tiba tiba rindu. Lalu, ah! Untuk apa kuceritakan semua ini.

Mas, aku suka kamu tambah semok, aku suka kamu putus sama dia, aku suka kamu jadian sama yang baru, aku suka apapun asal kamu bahagia. Bahkan, aku mencoba suka Tuhan ngambil nyawa kamu. Apapun, apapun, apapun.

.

24 Desember 2017.

Bahkan bunga-bunga dan doa saja tidak cukup menyampaikan rindu yang ada.

Setiap kali terluka, hadirmu ada. Setiap kali tertawa, hadirmu ada.

Setiap kali rindu, aku tak bisa apa-apa.

Adilkah ini?

Tunggu, rasanya ini bukan ranahku untuk berbicara adil atau tidak.

Aku hanya rindu, bicaraku ngelantur.

Aku siapa? Berani melangkahi nikmat pencipta?

Sudahkah kau makan cukup hari ini?

Kau bisa menerawang tidak, siapa saja yang mengirimkan bunga/doa untukmu disana?

Bisikkan padaku sedikit saja, agar aku bisa membalaskan kebaikan mereka.

Aku tahu, kita bukan apa-apa. Tapi aku juga bukan siapa-siapa tanpamu tempatku berbagi cerita.

Aku tau, rasanya tidak adil bila sepanjang persahabatan kita hanya kau saja yang bercerita sedangkan aku mengunci rapat semuanya.

Sekarang saatnya, aku ingin bercerita banyak.

Tapi semuanya terlambat ya? Aku sudah tidak bisa. Kamu juga tidak bisa meskipun kamu ingin.

Sayangku, rindu ini terpecah belah seperti hatiku. Pelukan-pelukan dan tawa itu menggiringku mengelilingi isi kepala. Bagaimana bisa kisah kita terhenti dengan hari-hari yang sangat sedikit jumlahnya? Sedangkan doa-doa yang kulantunkan sedari awal adalah selamanya.

Aku tidak ingin lupa, dan tidak akan lupa. Bahwa kenangan yang kita bangun bersama diatas mereka adalah kenangan termanis yang pernah aku ingat.

Percayalah sayangku, kamu adalah laki-laki pertama yang ingin aku jatuhi hati karena binar matamu, ketulusanmu, dan kehangatan pelukmu.

Bila memang nanti kita ditakdirkan untuk bertemu lagi, ingatlah. Aku adalah satu-satunya perempuan di dunia yang ingin bersamamu sampai hari itu tiba. Bukan sebagai seorang kekasih, tapi seseorang yang memberikan hati, pundak dan pikirannya untukmu tanpa memikirkan timbal baliknya.

Surabaya, 24 Desember 2017

Untuk kekasih hatiku, Anggi Randy Firmansyah.

Alfatihah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s