Selayaknya merindu

Sesudahnya kau pergi, hatiku kehilangan pilar-pilarnya.

Aku membiarkannya usang; biar jadi bangunan tua kubilang.

Nyatanya, masih ada saja sebagian dari diriku menambahkannya pondasi.

Supaya kuat menopang rindu katanya.

Nafasmu sudah habis, ragamu sudah hancur; tapi memoriku tidak.

Ia tak berhenti memberontak, kamu tahu? Aku sangat sangat bersyukur.

Tuhan memberikanmu untukku, untuk menjagaku selama beberapa saat. Aku menyayangimu; begitu pula kamu.

Aku masih takut gelap; tapi sekarang aku belajar tidur dalam keadaan gelap. Aku takut nanti apabila Tuhan memanggilku untuk menemanimu aku tak siap.

Sampaikan pada yang maha kuasa, kalau kau diberatkan melangkah masalah minuman haram yang kau tenggak bersamaku bilang saja aku biang keladinya.

Sampaikan padaNya, aku menginginkanmu sampai di tempat terbaik untuk menggantikan impianku melihat anak-anakmu tumbuh besar dan tertawa bahagia bersamaku.

Aku bahagia atas rindu ini, walaupun aku tau; kepergianmu adalah episode terburukku.

Salam hangat,

Adik kecilmu yang tidak bahagia tapi bersyukur pernah memilikimu.

– Tirtasya

Surabaya,

3 februari 2018.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s