Untuk Ara, penulis magis kesayanganku.

Usaha tidak akan menghianati hasil, katanya. Dan aku percaya.

Sebab apabila tidak kutanamkan kata-kata itu disana, harapanku akan mati begitu saja. Tiara yang kamu kenal adalah bukan Ara si penulis magis. Ia adalah gadis kecil yang mendewasa menjadi logika, yang dikuatkan oleh benturan panas matahari kota. Berjuang mendapatkan apapun yang dia inginkan, meskipun harus terluka dulu kedua kakinya.

Sebelumnya, ia hidup begitu saja. tidak percaya akan apapun. kecuali Tuhan, dan kekuatan hatinya. Setiap langkahnya angkuh dan tak ada orang yang berani mendekatinya bahkan sebelum berniat. dia bangun benteng tebal untuk melindungi hatinya yang rapuh nan tersamarkan.

Pertengahan 2019, Ara adalah orang yang lain lagi.

Aku sendiri hampir tak mengenalinya. Penulis magis yang selalu berteman denganku di tiap malam tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. bahkan pada malam-malam menyedihkanpun dia tak pernah datang. kucari kesana kemari, kudengarkan lagu-lagu kesukaannya demi menyusuri memori untuk menemukannya namun tak juga kutemukan.

Saat aku lelah mencari dan memikirkan untuk membangun sebuah karakter baru, dia muncul kembali. kali ini dengan Ara si penulis magis yang sungguh baru. Bukan lagi sendu pilu yang dia coretkan di kanvas kecilku. ia bawa pastel pelangi yang manis dan candu.

ahhhhh..

Rupanya dia menikmati, mengamati aku yang sedang jatuh cinta. “rupanya kamu bisa tersesat juga ya,” ujarnya.

Aku pikir juga iya, oh ternyata bisa juga.

Ra, aku ingin sekali bercerita kepadamu. tentang hal baru yang membuatku sangat bahagia sekali. Ra, bisakah kamu membaca ini seolah kamu adalah dia yang selama ini aku cari? sebab dia adalah laki-laki pada umumnya, yang bahkan tidak mampu mengekspresikan isi hatinya karena malu, atau juga karena gengsi hehe.

Kali ini saya ingin mendeklarasikan bahwa untuk saat ini saya adalah orang yang paling bahagia di muka bumi ini.
.
.
Sedikit cerita saya kira saya adalah orang paling egois yang hanya bisa mencintai diri saya sendiri. Saya pikir mencintai orang lain adalah hal yang sangat merepotkan, mungkin juga akan mengecewakan.
.
.
Tapi sesudah dia datang. Saya merasa 25 tahun saya kebelakang adalah kesalahan yang harus saya perbaiki. Pada kenyataannya sekarang, bahagia yang saya dapatkan adalah ketika saya mulai bisa mencintai orang lain sama seperti saya mencintai diri saya sendiri.
.
.
Saya bahagia ketika memperlakukannya dengan baik sebaik saya memperlakukan diri saya sendiri. Saya bahagia ketika menjadikannya prioritas seperti saya menjadikan diri saya sendiri sebagai prioritas. Saya bahagia telah membuat dia tertawa seperti saya yang juga ikut tertawa akibat melihat tawanya (lihat hidup ini mengalami pertukaran bukan?)
.
.
Saya sangat bahagia sampai saya merasa bahwa ini benar-benar kali pertama saya mencintai seseorang dengan sangat antusias! Seperti sehabis hujan muncul pelangi, dan hanya saya yang bisa melihatnya.
.
.
Saya mulai berpikir hal yang bertolak belakang dari apa yang selama ini tertanam dalam kepala saya. Sebelumnya saya berpikir kedepannya saya akan hidup sendirian saja, mencintai diri sendiri, menghasilkan banyak uang, menginvestasikan uang. Membantu orang lain, juga mendirikan sebuah shelter stray cat ketika tua nanti. Tapi sekali lagi sesudah dia datang saya mau semua pengharapan dalam hidup saya bisa dilakukan berdua, atau mungkin bertiga, atau berempat kelak ya mas ga ? Hehe.

Bagaimana Ara sayangku? apakah kau menerimanya dengan senyum-senyum sendiri? atau kau merasa bersyukur pernah mendapatkan cinta yang begitu tumpah? apa justru malah merasa terbeban akan perasaanku yang mengalir tak kenal hilir?

Ra, sejujurnya aku telah menjadi kamu, dan kamu adalah aku. Entah bagaimana kamu masuk. Terkadang aku sebagai manusia nyata ini merasa tidak percaya diri. Aku bisa bahagia dan terluka dalam sekedipan mata.

Kita sambung lagi nanti ya, kamarku sedang panas tidak karuan. Aku tiba-tiba kehilangan kamu lagi nih, sebab dia telah bangun dari tidurnya. Dan sudah pukul 2.00 waktu kehidupan nyata. Saatnya aku menjelma manusia yang memanusiakan dirinya lagi. Mematikan pikiran-pikiran yang memang tidak seharusnya hidup. Supaya orang lain tetap bisa memandangku sebagai orang yang berjalan sejajar logika. Bukan Ara penulis magis yang hidup dengan dunia dalam kepalanya sendiri. Karena sebenarnya ra, jurang antara logika dan ketakutan adalah seperdetik dari langkah kuda. Begitu mudahnya kita bisa terjatuh, namun begitu mudah pula kita bangkit dengan kekuatan kita.

Sampai jumpa lain waktu sayangku, aku akan menulis ketika kita berjumpa lagi. mungkin dua puluh enam hari dari sekarang. Kau jangan berpikir aku gila karena aku menuliskan ini untuk dibaca oleh diriku sendiri, kau tau sendiri. Kamu dan aku adalah satu kepala dalam dua kepribadian yang berbeda. Karenamu aku mampu bertahan sejauh ini, dan karenaku pula kamu bisa mengurangi jam kerjamu.

Sebagai penutup, aku sedang bersyukur dan merayakan kehidupan bahagia yang mampu didapatkan oleh siapapun yang berusaha untuk mendapatkannya. Introvert dengan dua sisi. Ekstrovert dengan berbagai muka. Juga untuk mereka yang pernah berpikir untuk mengakhiri hidup, percayalah. “Ara” dalam dirimu akan banyak sekali membantu. Menulislah meski hanya dibaca oleh dirimu sendiri.

Surabaya, 22 Oktober 2019.

Tiara Putri.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s