Manusia Tumbuh Dengan Keluhan, Begitu Pula Aku.

Aku kira tumbuh dewasa akan membuat matahari terbit terlihat hanya sebesar bola bekel sehingga kita manusia dewasa bisa menggenggamnya dengan mudah.

Ternyata tumbuh dewasa butuh energi besar.

Seperti membolak balikkan rubik! Banyak sisi yang harus kupecahkan.

 

Aku ingat suatu hari aku terbangun dengan sakit kepala,

Seusai semalaman membaca artikel tentang para penguasa negriku yang sedang berkompromi untuk mengeruk uang rakyatnya.

Ada kala juga aku terbangun dengan tangis akibat aku terlalu banyak bicara dan membuat lubang sebegitu besar dalam kisah persahabatanku.

Ada kalanya juga aku mengernyitkan dahi melihat teman-temanku menjadi mudah terpantik emosinya ketika melihat hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang dianutnya.

 

Rupanya tumbuh dewasa sulit juga untukku,

Belum lagi memikirkan kisah cinta yang kadang kupikir lebih menarik daripada bagaimana aku harus mencari uang untuk memberikan diriku sendiri makan besok. Padahal perut adalah yang nomor satu untuk bertahan hidup. Hati kesekian.

Pacarku juga banyak mengeluh tentang banyaknya perempuan diluar sana yang termasuk perempuannya begitu menyukai budaya korea, lalu aku juga mengeluhkan kebiasaannya memutar-mutar lagu yang ia sukai sampai pecah gendang telingaku. Sehingga, mau tak mau aku jadi membiasakan diri untuk menyukainya juga.

Aku juga banyak mengeluh tentang badanku yang gampang capek, tentang bentuk tubuhku yang tidak sesuai dengan mbak-mbak di Instagram, tentang hobiku memainkan handphone berjam-jam,  mengeluh tentang biaya listrik yang begitu mahal jika aku menyalakan ac 24/30 untuk mengatasi panasnya kamarku, aku juga terus mengeluh tentang rutinitas yang biasa-biasa saja tapi malas jika harus keluar dari zona nyaman itu sendiri.

bahkan sekarang aku mengeluh karena ingin menulis tapi perutku tiba-tiba membuatku ingin ke kamar mandi. padahal seperti yang kalian ketahui, menulis membutuhkan emosi dan ingatan yang lebih cepat dari petir yang dalam perjalanan menyambar pohon. meleset sepersekian detik, hilang pesan.

Semakin kesini aku semakin berpikir bahwa hidup memang untuk mengeluh, dan memenuhi otak kita dengan perbandingan-perbandingan mengapa orang lain bisa begitu sedangkan aku tidak.

Surabaya, 24 Oktober 2019

21.27

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s