Jika Kau Bertanya Bagaimana Aku Akan Menghabiskan Hidupku Nanti, Begini Kira-Kira

Huruf Kecil adalah manusia yang aku gunakan sebagai pedoman hidup, aku ingin menua dengan puisi-puisi cinta dan keluh-kesah patah hati yang bernyawa. Aku suka ketika aku terjatuh, menangis tersedu-sedu, namun juga seketika ingin terbang setelah membaca teks yang dilontarkannya. Bagiku Huruf Kecil diberkati Tuhan jemari lentik yang akan selalu romantis dalam setiap gerakannya. Bahkan sedetik sebelum bertemu denganmu aku masih tetap berpikir bahwa mungkin nantinya aku akan tetap jadi pujangga saja, meskipun tidak punya siapa-siapa dihidupku; setidaknya di kepalaku ada setumpuk penyesalan yang bisa aku jadikan bahan narasi.

Pikirku, dengan aku menjadi pujangga patah hati, aku tidak akan berhenti menulis dan memberi nyawa di setiap teks yang kuhasilkan. Jadi aku juga ingin jadi Huruf Kecil untuk orang lain. Ibarat profesi, Huruf Kecil adalah dokter dan aku adalah anak kecil yang diobati olehnya. Namun selagi aku menjalani pengobatan, akupun berangan-angan bisa menjadi dokter sepertinya dan memberikan orang lain kesembuhan lewat jemariku sendiri. Jadi selagi terapi, aku juga bisa menghasilkan uang hehe.

Namun itu sudah tidak berlaku lagi.

Sekarang dan kedepannya, aku lebih menginginkan hadirnya kamu untuk mengiringi tidurku, meskipun nantinya aku akan terganggu dengan geli rambut dan tanganmu yang melingkar diperutku; mungkin kamu juga akan terganggu ketika aku memelukmu ganti dan badan kita saling bertukar keringat; gerah. Aku juga menginginkanmu disisiku 24/7 meskipun pada akhirnya aku tidak akan punya waktu untuk diriku sendiri dan pasti aku akan sangat muak dengan musikmu yang kau putar berulang-ulang; bagiku selera musikmu tidak masuk akal sayang, dan aku tau menurutmu juga sebaliknya. Kedepannya, aku juga berharap kita akan saling mencaci dan saling bertukar nada tinggi karena jengkel atas tingkah laku satu sama lain.

Lain kali aku akan menuliskan hal yang lebih romantis tentang musik-musik yang kudengarkan dan kusandingkan dengan cerita gerak manja jemarimu yang minta digandeng saat kita pergi ke pusat perbelanjaan, juga tentang ketidaknyamananmu ketika aku memelukmu diatas motor sambil bercerita hal-hal yang seharusnya tidak perlu diceritakan manusia ke manusia lain. Atau mungkin tentang, ah tidak. Bersamamu aku tidak punya waktu luang untuk banyak bergerak, aku hanya ingin menikmati mata dan senyummu saja tanpa memikirkan apa yang ada disekitar kita. Akan kuabaikan apapun hanya untuk membayar mahal kebersamaan kita sebelum realita membawa kita pada pesakitan yang mungkin hanya bisa kita selesaikan diatas ranjang.

Sayang, aku ingin disampingmu sampai tubuh ini ditanam bak tumbuhan. Bahkan aku masih ingin bersamamu walaupun kamu tidak pernah sekalipun berusaha untuk membaca narasi-narasi yang aku tujukan untukmu.

Surabaya, 18 Desember 2019. 1.55 Dini Hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s