Menutup tahun 2019.

Akan kuceritakan sedikit bagaimana aku merasa sangat tidak percaya diri tentang adanya aku.

Jadi, hampir sering aku berbicara kepada diriku sendiri tentang hal-hal seperti ini.

Pernah juga aku berpikir

Tentang bagaimana orang tuamu bisa menerima aku yang blangsak ini sebagai menantu

Yang liberalis, logic, dan jauh dari Tuhan.

Denger ngaji-ngaji di mushola yang kenceng banget suaranya aja kadang sebel,

Pernah ga kamu kepikiran?

Mamamu sedang nonton sinetron kesukaannya di tv,

Terus aku ngedumel gara-gara gak suka acara kek gitu ditayangin di tv nasional? Udah ga mendidik, bikin dongkol lagi!

Gimana coba ekspresi mamamu?

Atau pas aku lagi mau mindahin anak-anak ulerku ke tempat barunya, tapi ada yang lepas.

Terus bapakmu panik, dan teriak seolah rumah kemalingan?

Pernah aku juga berpikir tentang bagaimana aku bisa jadi istri yang baik

Bangunku aja masih siang

Jam makan ga teratur

Baju berserakan dimana-mana

Belanja ini itu sembarangan

Belum lagi hobiku sebagai manusia rebahan

Gara gara sering mikir gituan, aku sekarang jadi paham kenapa kamu kok belum pernah memperkenalkan aku ke lingkungan sekitarmu. Yaaa memang aku belum pantes juga kan menurutmu?

I think, maybe you can find someone better than me in every aspect yang lebih bisa kamu bawa pulang dan perkenalkan kepada keluargamu bahwa “she is my girlfriend buk” karena kalau kamu perkenalkan aku dulu dan nantinya tidak cocok kamu gaakan malu dan repot memperkenalkan orang baru lagi.

Tapi kalo dipikir berulang ulang aku jadinya capek sendiri, sudah tidak percaya diri, jadi tidak percaya padamu juga.

Gimana mau jadi anak idaman.

Bisa-bisa belum resmi jadi istri kamu aku sudah dicoret sebagai calon.

Itu baru sebagian kecil sayang,

Kalau kuruntut dari awal mungkin bisa pegal aku menuliskannya.

Kamu pernah dapet ini dari yang lalu,

Kamu pernah dikasih itu sama yang lalu,

Aku nggak bisa kasih apa apa.

Tapi aku pengen bareng sama kamu,

Disurabaya yang nantinya bakal jadi kota tua.

Atau mungkin nantinya jadi kota terpadat dinegara kita.

Aku mungkin bisa janji

Nanti kita bisa bangun pagi bersama

Lari pagi, nemenin kamu main basket

Bikinin kamu sarapan, nyiapin seragam anak-anak kita juga.

Pulang kerja kita Jalan-jalan terus liat gerhana matahari cincin yang jarang adanya

Tentang apa dan bagaimana sekeliling kita,

Tidak usah terlalu kamu pikirkan.

Aku malah jengkel

Juga kecewa

Toh; tidak ada juga peduli,

Juga gak ada yang bertanya tentang apa dan bagaimana masa depan kita.

Jadi sebaiknya, biasa saja.

Sayang,

Aku rasa perasaan tidak percaya diri ini bisa luntur saat kita bersama-sama.

Benar juga.

Ara menuliskan ini

Untuk melanjutkan

Terapi terhadap rasa tidak percaya diri

Yang ada pada kepalanya sendiri

Menulis sambil mendengarkan sal priadi.

Mulai dari amin yang paling serius, elegi figura renata, sampai float sementara.

Sementara, ingat lagi mimpi.

Juga janji-janji, jangan kau ingkari lagi.

Percayalah hati, lebih dari ini pernah kita lalui,

Takkan lagi kita meski jauh melangkah.

Nikmatilah lara.

Percayalah hati, lebih dari ini pernah kita lalui,

Takkan lagi kita meski jauh melangkah, jangan henti disini.

——–

Aku rasa ara juga manusia biasa.

Sebagai penutup,

Aku punya sedikit obat.

Surabaya, 27 Desember 2019.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s