Pertanyaan “bagaimana” ada hanya untuk memuaskan spekulasi yang ada didalam kepalamu saja.

Kebanyakan dari mereka berbicara tentang,

“bagaimana cara menikmati puisi sedangkan kita sedang tidak berada dalam kisahnya?”

atau tentang,

“bagaimana dia tetap menulis puisi padahal tidak juga ada yang perduli tentang apa yang dia tuliskan?”

 

Pagi ini,

di sebuah cafe kecil dipusat kota. Akupun memikirkan hal yang sama.

“bagaimana aku bisa menyukai gerimis padahal ia sangat merepotkan ketika datang?”

“bagaimana aku bisa tetap makan eskrim padahal sadar bahwa eskrim bisa bikin aku gemuk?”

“bagaimana aku tetap menyimpan cinta padahal aku terlampau sering terluka?

Pernah juga aku menulis dan menyuruhmu membacanya, setelah itu ternyata aku tidak juga mau tahu bagaimana reaksimu setelah membacanya, atau bagaimana caramu bersikap setelah selesai membacanya, atau apakah kau sadar bahwa objek didalam sana adalah kamu sendiri.

Suasana terlampau sendu.

Bukan gerimis yang datang, melainkan gelegar petir dan angin kencang. Tapi hujannya belum datang. Aku duduk dengan secangkir es kopi susu dan jarak panjang yang memisahkan kita.

Aku terus bertanya tentang hal-hal yang tidak bisa kulihat dengan mataku, sedang apa kau disana, bagaimana kabarmu hari ini, apa kau masih menyimpan perasaan yang sama seperti pada saat kereta menjemputmu pergi meninggalkanku di kota ini. Segalanya terasa riuh sekali, gemuruh hebat dikepalaku tidak berhenti karena tidak ada yang menenangkan.

Cafe ini memutar ulang Bambina berkali-kali. Mengingat aku sudah duduk disini beberapa jam, mungkin pegawainya sengaja membuatku bosan karena sungkan menyuruhku pulang. tapi aku tidak peduli.

Aku masih duduk dan memperhatikan tulisan di web teman-temanku, mereka menulis tentang cinta, tentang suasana kota, mereka menulis tentang negara yang penuh kepalsuan, juga menulis tentang ucapan selamat tinggal tanpa ada kata selamat tinggal didalamnya. Kemudian aku melihat kertas dihadapanku penuh coretan, halaman ini, baliknya juga. Penuh sesak sampai tinta-tinta itu saling menembus seolah berebut untuk dibaca.

“oh”

Rupanya, teks-teks yang sedari tadi kubaca ini memang tertulis untuk menyembuhkan penulisnya sendiri.

Es kopiku sudah habis, sialnya tujuan awalku datang adalah menulis puisi. Sampai di titik ini kata-kata yang kutuliskan barusan malah diari. tapi yasudah, mungkin aku harus belajar lagi memisahkan batas antara kepedihan dan pertanyaan-pertanyaan yang memelahkan. Aku pulang sambil berdoa semoga kita semua bisa sembuh dengan pengobatan gratis bernama menulis.

Surabaya,

25/05/2020.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s