Bagaimana kalau kita akhiri ini dengan mati berdua saja?

Kemarin lusa dia tampan sekali saat mabuk sambil merancau tentang kekacauan yang sedang hadapinya. Kemarinnya lagi dia tampak tampan sekali saat menyodorkan cerita tentang ketidakberdayaannya mencari lapangan pekerjaan. Tapi Keesokan harinya dia sudah buruk rupa lagi.

Dia pandang pojok kamarnya sambil menghisap habis rokok kretek yang dibelinya di tetangga sebelah. Sedangkan aku tengah sibuk menerka apa yang ada di kepalanya.

“Sepertinya ada jutaan daging grilled yang saking nikmatnya sampai dia enggan berbagi denganku.” Padahal hari ini tadi dia datang dengan mencium keningku, tapi aku belum juga tau apa yang ada dikepalanya.

“Sepertinya ada yang tidak adil dalam hubungan ini; apakah aku saja yang merasa memilikinya sedangkan dia tidak merasakan hal yang sama?”

Sebelum ini semua dimulai, kami memang pernah berjanji memberikan kamar kosong satu sama lain agar bisa menikmati diri kami masing-masing. Tapi kurasa akhir-akhir ini aku ingin merobohkan batas antara dua kamar itu sambil mengumpat sekencang-kencangnya.

Pada hari kesekian kebersamaan kami, ia masih melakukan rutinitas yang sama; yaitu mencium keningku setiap pulang kerja dan berlalu memasuki kamarnya sendiri.

Karena kecewa berlebihan, aku mulai belajar memasuki pandoraku sendiri. Sayangnya, yang kudapati adalah jalang yang semakin tua bukannya semakin percaya diri malah makin sibuk memenuhi dompetnya dengan jarum dan peniti kecil untuk melukai dirinya sendiri.

Pernah aku mendapati wanita jalang itu merenung melahap habis pikirannya sendiri sambil memandangi kaca dan terkesima mendapati dirinya berusaha menyobek nadinya sendiri.

Sekeluarnya aku dari sana, aku mulai mendapati laki-laki yang kusebut kekasihku itu menjadi semakin tidak perduli apakah wanita yang bersamanya telah makan dengan baik atau tidak. Pikirnya kebersamaan saja cukup, mencium kening saja cukup. Tugasnya hanya mengusap rambut sembari tersenyum manis tanpa pernah membuka satu kancing bajuku sama sekali.

Pernah aku hampir membekap kepalaku sendiri dengan selimut yang dibelikannya karena bisikan jalang sialan itu. Berkali-kali sudah kucoba mengakhiri pikiran buruk tentangnya. Namun aku selalu berhasil meninggalkan jalang itu dan keluar pandoraku tanpa memperlihatkan emosi apapun.

Keesokan paginya, dia muncul dari balik pintu dan bersiap memelukku ulang.

Ribuan hari berlalu dengan luka yang sama. Dan masih saja aku menginginkan dia memelukku sambil bertanya tentang bagaimana hariku. Tapi belum juga ia bertanya tentang apakah aku masih menumbuhkan cinta seiring kebersamaan kami yang bertambah setiap hari.

Oleh sebab itu kekecewaan itu hadir saat aku sadar bahwa aku terus berbagi cita-citaku sedangkan dia hanya manggut-manggut tanpa pernah mengeluarkan satu patah katapun. kapan lalu ada yang bilang padaku untuk menukar lelakuiku dengan kipas angin, benar saja! mending aku tukar saja dengan kipas angin yang masih geleng-geleng saat aku merancau tentang isi hatiku.

Dibuatnya aku mati ditikam patah hati.

Dibawah langit jingga yang berpendar indah, dimana semua orang memuja ciptaan sang maha kuasa yang begitu hebatnya dia sibuk menyalakan motor dan aku tengah sibuk meminum darahku sendiri yang telah kusobek dini hari tadi.

Lalu dia akan dapati aku mati bersimbah kekecewaan yang tumbuh karena ketidakbisaannya menenangkanku yang sedang berusaha menjadi terbaik untuknya.

Tanpa berucap juga dia yang sedari tadi duduk melihat darah dimana-mana mulai membasuhkan darahku dan membenamkan wajahnya disana sambil meratapi kebodohanya sendiri. Dan pada akhirnya dia berakhir tragis juga untuk menebus laraku.

Semoga saja dia ingat bahwa salah satu kalimat yang akan kubawa mati adalah “Mata dibalas mata, dan gigi dibalas gigi.” Selain itu dia juga tau bahwa aku tidak akan meninggalkannya sendirian. Maka lebih baik jika kita mati bersama saja bukan?

Surabaya, 13 juli 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s