Sebelumnya aku akan meminta maaf karena dikepalaku ada sesuatu yang mengharuskanku melembur pagi ini.

Semakin bertambahnya umur, aku semakin sadar bahwa secinta-cintanya aku dengan puisi aku tetap tidak bisa menuliskannya dengan baik. Entah aku yang terlalu takut pesanku tak tersampaikan atau memang dari diriku sendiri yang tidak bisa menyederhanakan pesan dengan kalimat pendek berdiksi bagus. Menyebalkan.

Pagi semakin pagi, dan aku sudah bisa merasakan detak jantungku sendiri yang dialirkannya pada guling dan berakhir di telingaku. SETENGAH EMPAT PAGI! dan lagu Crisye – Sendiri mengalun lembut mengiringinya merenungi sesuatu yang entah apa.

Menyenangkan sekali ketika sebelum tidur ada kata kerja yang berlarian dikepalaku, apalagi sesudah tersiram es kopi dingin. Mungkin badanku lelah mataku juga tapi mereka tak kunjung juga berhenti. Sampai jemariku saja yang bisa meladeni keusilan kata kerja.

Anak-anak sudah sarapan pagi ini, ayahnya juga. Pagi ini suamiku bercerita tentang kelincinya yang mencapai bobot 2,5kg. Begitu lucu tapi juga menyebalkan. Pekerjaanku sebagai penyandang kekuasaan tertinggi dirumah ini makin payah sejak kedatangan 2 bayi kelinci baru. Belum lagi kalau mereka baku hantam dengan kucing tetangga. Repotnya masyaallah.

Tapi aku selalu punya cara lain untuk menghibur diri sendiri. Aku selalu suka menyembunyikan sesuatu, ketika anak-anak pergi bermain bersama ayah mereka aku selalu suka bermain sendiri. Membersihkan seisi rumah sambil menggali dan menanam harta karun yang tidak ada orang tau. Aku menyimpan resep makanan, nomor handphone pria kesukaan, sampai kuncir rambut unicorn jaman aku kecil. Kusimpan dibawah lemari, di atas plafon, di bawah pohon, di saku kanan celana suamiku, juga di file-ing rapih dikepalaku.

Menikahinya dan melahirkan bayi manusia lucu-lucu adalah sebuah hadiah yang ngga aku dapatkan cuma-cuma. Selalu ada yang harus dibayar untuk sebuah barang mahal. Aku tidak akan bersedih atas kebebasan yang memang tidak pernah ada untuk manusia.

Hidup ini begitu indah, dan hanya kita yang tahu. Begitu kiranya kata Dea Anugrah, penulis sekaligus mas-mas wartawan yang sangat aku senangi. Istrinya juga cantik, namanya Nadya. Dea begitu mencintainya sampai ingin hidup ribuan tahun bersama. Begitupula aku.

Di dalam kepalaku ada beberapa nama orang yang pernah aku inginkan untuk ada pada posisi ini. Hidup ini tak henti berisi kejutan, seperti lotre atau kocokan nama arisan ibu-ibu komplek. Setelah hari-hari berlalu dengan menyebalkan, daftar nama itu habis dan berakhir dengan namamu sebagai kocokan terakhir yang menjadi bagianku. Siapa yang menganggap kocokan arisan sebagai sebuah malapetaka? Tidak ada. Semua yang hadir menginginkan giliran mereka, dan yang memberi selalu menunggu waktu yang tepat untuk doorprisenya, benar tidak sayangku?

Begitu muncul namamu, aku sadar bahwa ini adalah saat yang tepat. Kesempatan yang bagus tidak akan datang untuk kedua kalinya. Begitu aku melepaskan hal baik, tidak akan ada kebaikan yang datang lagi menghampiriku setidaknya seribu tahun kedepan. Maka dari itu aku merawat perasaan ini dengan baik, sampai aku berakhir dengan menginginkan hidup denganmu sampai entah kapan hidup ini akan berakhir.

Aku akan menikahimu dan menikahi diriku sendiri sekaligus karena sungguh perasaan ini tidak dapat terbagi. Segala aku, keresahanku, kemarahanku, keras kepalaku adalah tubuh yang harus kau hadapi setiap hari. Laku lembut dan peluk hangatmu adalah pagi menuju siang yang kuinginkan hadirnya terus-menerus. Aku dan kamu adalah utara dan selatan yang terus mengikat satu-sama lain. Begitulah hidup kita harus berjalan. Tidak boleh ada pilihan lain selain membahagiakan dengan cara memerdekakan satu sama lain.

Besok ayo kita berlaku kenakan dengan main kocok lotre ya sayang? Siapa tau besok giliran kamu bebersih rumah dan beruntung menemukan sesuatu yang aku simpan untukmu. Besoknya ayo kita berlaku kekanakan lain dengan saling berbalas hal usil untuk mengisi memori kita 70 tahun kedepan.

Sudah adzan subuh, sebentar lagi anak-anak saatnya bangun. Baiknya kita tidur sebentar mengisi amunisi untuk terus bisa berlaku manis ketika mereka membuka mata.

Surabaya, 31 Maret 2021.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s