Tumpukan rindu..

Di ujung jalanku, kulihat tumpukan kertas beraneka warna, tingginya hampir se-aku. Aku ingin meninggalkannya, tapi langkahku tak juga mau berhenti, akhirnya kumantapkan kaki mendekati tumpukan itu, kutemui kata “rindu” tertumpuk disana. Sudah hampir usang, sepertinya di abaikan sang pemilik.

Tak terlalu jauh, aku melihat sosok laki laki tampan. Dia terdiam di bawah lampu, dia begitu bersinar. Aku mendekatinya, lalu dia menoleh dan berkata “kenapa kamu mengabaikanku” seketika aku terperangah, sontak berdiri, menatap tumpukan rindu usang itu. Lelaki itu terus memandangiku, seakan akan mulai membenciku. Aku semakin kacau tak mengerti.

Lelaki itu menunjuk ke arah tumpukan kertas itu, aku mengernyitkan dahi. Aku berjalan perlahan menghampiri tumpukan itu lagi. Tapi tunggu, sepertinya terselip kertas putih di antara kertas berwarna lain, aku membaliknya. Tak kusangka foto lelaki itu, pikiranku tertarik jauh mengenang lelaki itu.

“astaga, dia” kepalaku cepat cepat menoleh pada lelaki itu, kosong. Lelaki itu sudah tidak pada tempatnya. Aku terdiam sejenak, lalu suara langkah kaki mendekatiku, dia membawa secarik kertas berisikan “tetap rindukan aku, jangan mengabaikanku, tetap rindukan aku, kamu akan selalu tau, aku pernah mencintaimu”

Surabaya, 20 januari 2014. 12.02
-Sekelebat cerita yang berlalu lalang dikepala-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s