Aku ingin meminjammu untuk dini hari ini saja boleh ya?

Kerlap-kerlip lampu kamarku memang sangat menyebalkan, belum lagi kamar indekos yang tidak ada ventilasinya ini terasa gerah sekali.

Dari sini segalanya serasa tidak bergerak; membuatku tidak menyadari kapan malam datang ataupun kapan malam itu berlalu.

Meskipun begitu, aku selalu sigap saat fajar tiba. Seperti namamu yang tidak pernah kuduga-duga hadir dalam kehidupanku yang membosankan ini.

Hampir sepertiga malam kulalui dengan berkeliling ingatan. Tidak ada kopi, tidak ada rokok, tidak juga ada kamu.

Detik ini juga, aku ingin berlari dan memelukmu erat. Barangkali juga keserahakanku ingin dapat bonus untuk bisa tidur bersama aku pasti senang sekali.

Kita tau jelas bahwa dunia dan isinya adalah narasi, dan narasi bebas aku ciptakan sendiri tanpa perlu persetujuanmu sebelumnya. Sayangnya; narasi tentang kau dan aku, adalah bukan keputusan sepihak.

Kita adalah puisi yang tidak selesai karena tidak pernah tertulis.

Kita adalah api yang tak padam karena memang tidak pernah tersulut.

Pagi ini akan kubiarkan hatiku merasa kehilangan, tapi untuk hari ini saja. Untuk keesokan hari; aku tak mau lagi.

Surabaya, 31 maret 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s