Aku terlalu sibuk menyederhanakan kalimat sampai lupa bahwa sederhananya cinta adalah berlaku yang tidak tau malu, seperti mengaku jatuh cinta padahal cuma pinjam namanya saja.

Apakah semua cinta harus bermuara pada pertemuan?

Setelah perbincangan elektronik itu kuarsip beberapa hari lalu, aku terus bertanya apa arti kata kita? sedangkan segala kita berawal tanpa ada kata temu.

Ahir-akhir ini hampir mustahil rasanya memikirkanmu tanpa bertanya-tanya.

Diluar sana angin mendadak tajam juga kejam.

Padahal gelas latteku masih sangat dingin, sedingin pelukanmu di mimpiku semalam.

Aku masih ingat kebiasaanmu sebelum tidur, nonton video di instagram sambe goblok kan?

Kalo ga gitu kamu nggambar sampe ketiduran di kamar mandi.

Kalo ga gitu kamu main game sama temen-temenmu sampe lupa waktu.

Sedangkan aku selalu sibuk memandang kucing sambil berpikir bagaimana cara menyederhanakan kalimatku agar padat berisi seperti puisi.

lalu kita sama-sama lelah, dan tidur tanpa sempat berpamitan.

Sepertinya bulan sudah berlalu banyak, apa kau tidak ingin pulang?

Rasanya aku sudah bosan tidur sendirian.

Setengah lima pagi, kaca mulai mengembun dan mempersilahkankan kau tak pulang ke pelukanku malam ini.

Surabaya, 01 Juni 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s