Lembar-Lembar Setelahnya.

Pada hari kau marah besar, aku menemukan diriku yang hilang dibalik genggam tangan yang penuh; bersesakan keringat, lembab, juga dingin.

Lagu ditelingaku terdengar lantang; kanan kiri bersahutan.

dipangkuanku ada pena yang menulis katanya sendiri.

Katamu; cinta adalah air mata yang berlinang-linang, sedangkan bagiku cinta adalah berbuat semaunya tanpa takut tersandung batu. Kau menggendongku ketepian, sedang aku bersuka cita di kedalaman. Aku menarikmu turun dari pohon kelapa sedang kau bersikukuh mengambil satu untuk kau suguhkan diruang tamu.

Kau memintaku diam menonton tv, sedang aku suka menyapa orang diluar jendela. Aku melihat sepatumu yang kau gerakkan ke atas dan kebawah, sedang kau sedang menatapku tak berkedip. Manusia bergerak sesuai garisnya, sedang kita membeku penuh tanda tanya.

Bagiku, beginilah seharusnya cinta bekerja.

Mantra selalu akan membutuhkan tanda koma, juga tanda baca yang lainnya.

Surabaya, 24 Juni 2021.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s