Muda-Mudi yang Bercinta di Antara Kobaran Api.

Singkatnya,

Pacarku tidak suka kata-kata manis, juga tidak suka musik-musik romantis.

Ia adalah pukul tujuh belas kosong-kosong, sulit untuk kupahami.

Lima meter setelah objeknya buram begitu saja.

Kadang teratur kadang tidak.

 

Aku adalah bulir embun di pagi hari, dan dia adalah lembar daun yang kusinggahi.

Kadang kebersamaan kami melaju indah seperti manusia yang asik bermain ice skating dengan tumpukan salju yang melimpah.

Kadang juga aku adalah kayu bakar, dan dia adalah api yang membakar; bahkan tanpa pemantik.

 

Pernah ia tidur disampingku, kulihat matanya memejam dengan tampan.

Yang aku heran, terkadang pikiranku berlari lebih jauh dari apa yang ia tampakkan.

Liar dan berani.

Padahal aku tahu sendiri, keberanian adalah akar kecelakaan.

Dan aku sudah cukup mengambil jatah resikoku.

 

Aku ingin banyak kosakata seperti penyair lain,

Mungkin seperti pak sapardi yang jago mengolah kata-kata indah,

Atau menjelma mas aan mansyur yang mahir mencipta puisi patah hati.

Namun sulit sekali; aku lebih sering menggigit lidahku daripada berdebat tentang sudut pandang hidup dengannya.

Aku merupakan diriku sebagai bom waktu yang kapanpun siap dipantik dan meledak.

 

Aku adalah perempuan yang rumit dalam hubungan ini, sedangkan ia tidak.

Dia adalah laki-laki yang rumit dalam cara memandang hidup, sedangkan aku tidak.

Kami ingin hidup bersama dengan cara yang berbeda, aku dengan kucing-kucingku, dia dengan mesin-mesinnya.

Kami adalah dua laut yang berbagi tempat, sering bergesek tapi tidak melebur.

Surabaya,27 Oktober 2019.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s