Menulis dendam begitu cantik, sampai aku tidak sadar bahwa ini berisikan doa-doa yang tidak pantas.

Bagaimana, sampai dijudul ini apa sudah dapat intinya?

Pagi ini aku masih terbangun oleh dendam yang berlebihan, aku benci ketika membayangkannya mereka sedang berbahagia diatas kebohongan sekalipun. Berpura-pura bodoh adalah hal yang sangat dibenci Tuhan, begitupula aku. Sepengetahuanku, manusia tidak akan berubah secepat angin. Coba kamu pahami lebih jeli lagi, apa benar manusia yang akan kamu pilih seumur hidup itu benar-benar sudah bersih dari kebiasaan masa lalunya? Kalau iya mungkin hidupmu sudah lebih tenang sekarang. Tapi coba aku bertanya sedikit, apakah sudah demikian?

Tidak ada yang lebih jujur dan bisa mengetahui bagaimana isi hatimu yang sebenarnya kecuali diri kamu sendiri.

Aku pikir ini memang karena dendam, tapi logikaku juga berkata begitu. Dalam kepalaku aku sungguh ingin kita semua berbahagia, tapi dalam hatiku tidak begitu. Aku sibuk mendendam tapi tak juga sibuk untuk membalasnya, aku rasa Tuhan juga sedang berada dipihakku sekarang. Semoga saja luka yang masih memborok didalam hatiku ini bisa berpindah saja ke kehidupan mereka. Tidak akan ada manusia yang bisa berbahagia setelah melukai orang lain. Lex talionis, kamu cari sendiri artinya.

Sampai detik ini aku terus berusaha untuk menyembuhkan luka-luka yang diberikan manusia pengecut itu sembari terus mencoba untuk menikmati hidupku yang semakin kesini semakin menyenangkan. Ternyata hidup ini memang lebih asik demikian, kamu bisa terus terbayang-bayang dan tidak tenang. Sedikit banyak aku rasa kamu sekarang adalah aku beberapa bulan silam.

Jangan senang dulu, jangan dikira aku masih sering mengumpat ini karena aku tidak bisa menikmati hidupku yang sekarang. Tentu bukan aku tidak sedang berbahagia.

Kamu tau dalam tubuhmu ada jutaan spot cantik yang diberikan Tuhan dan wajib kamu jaga. Semisal perutmu tertusuk benda tajam dan pernah di operasi supaya bisa sembuh, apakah bekas lukanya bisa hilang? Kalau ditekan pasti masih sakit. Kalau kau lihat dikaca bekasnya juga pasti menjijikkan. Analoginya begitu kira-kira.

Namun baiknya Tuhan, meskipun perutku tertusuk pisau hingga luka dalam, jantungku masih kuat memompa darah ke seluruh tubuh. Sel-sel baru tumbuh dengan kuat. Mereka disokong oleh asupan nutrisi baik setiap harinya.

Jadi begini,

Sekalipun aku tumbuh dengan dendam yang kupelihara. Aku pula bersyukur dengan hidupku yang begini adanya. Dihujam luka seberapapun, tidak ada yang bisa menjatuhkanku lagi.

Sangat bahagia hidupku karena aku tidak pernah kawatir tentang bagaimana kehidupanku di masa depan, karena aku yakin kali ini adalah Hidup yang tepat.

Karena aku mengumpat dengan senang,

Sungguh berbahagia.

Aku.

Semoga.

Semoga tidak ada aku aku lain di dunia ini.

⁃ Nanti jika hidupmu benar-benar sudah bahagia, Aku yakin kamu tidak akan sempat membaca teks ini. Jika masih terbaca juga, aku rasa kamu tau jawabannya sendiri. Selamat berjuang, aku yakin Tuhan menciptakan dendam tidak untuk menyia-nyiakan hidup manusia.

Surabaya, 1 Maret 2021

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s